Rabu, 27 Mei 2015

mata kuliah wacana materi jenis-jenis wacana

JENIS – JENIS WACANA (NARASI, DESKRIPSI,
ARGUMENTASI, DAN PERSUASI
A. ARTI WACANA
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia wacana adalah : 1) Komunikasi verbal ; percakapan ; 2) Keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan ; 3) Satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato atau khotbah ; 4) Kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis ; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat ; 5) Pertukaran ide secara verbal.
           
Beberapa definisi dan pendapat dari para pakar bahasa mengenai wacana, antara lain oleh J.S. Badudu (2000) mengatakan wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar diatas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan dan tertulis
Dari pengertian, pendapat dan uraian diatas, jelaslah bahwa wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan makna antarsatauan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam media yang memiliki makna dan terdapat konteks didalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana.
Berdasarkan saluran komunikasinya wacana dapat dibedakan atas ; wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki ciri adanya penuturan dan mitra tutur, bahasa yang dituturkan, dan alih tutur yang menandai giliran bicara. Sedangkan wacana tulis ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan dan penerapan sistim ejaan.
Wacana dapat pula dibedakan berdasarkan cara pemaparannya, yaitu antara lain ; wacana narasi, wacana deskripsi, wacana argumentasi dan wacana persuasi
B. URAIAN WACANA NARASI, DESKRIPSI, ARGUMENTASI DAN PERSUASI
1. Wacana Narasi
Wacana Narasi adalah salah satu jenis wacana yang menceritakan / mengisahkan sesuatu peristiwa secara berurutan berdasarkan urutan kejadiannya. Dengan demikian wacana jenis ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi seseorang melainkan hanya menceritakan sesuatu kejadian yang telah disaksikan, dialamin dan didengar oleh pengarang (penulisnya). Narasi dapat bersifat fakta atau fiksi (cerita rekaan). Narasi yang bersifat fakta, antara lain biografi dan autobiografi, sedangkan yang berupa fiksi diantaranya cerpen dan novel.
Contoh wacana narasi :
Kegiatan disekolahku demikian padatnya. Setiap hari, aku masuk pukul 07.00. Agar tidak terlambat, aku selalu bangun pukul 04.30. Setelah mandi, akupun shalat subuh. Kemudian, aku segera mengenakan seragam sekolah. Tak lupa aku lihat-lihat lagi buku yang harus aku bawa. Yah, sekedar mengecek apakah buku-buku yang aku bawa sudah sesuai dengan jadwal pelajaran hari itu. Selanjutnya, aku makan pagi. Lalu, kira-kira pukul 06.00, aku berangkat ke sekolah. Seperti biasanya, aku ke sekolah naik angkutan umum. Jarak rumah dengan sekolahku tidak jauh, sekitar enam kilometer. Aku memang membiasakan berangkat pagi-pagi. Maklum, angkutan kota sering berhenti lama untuk mencari penumpang. Jika aku berangkat agak siang, wah, bisa terlambat sampai di sekolah.
Di sekolah, aku belajar selama kurang lebih enam jam. Jam pelajaran berakhir pukul 12.45. Itu untuk hari-hari biasa. Hari Rabu, aku pulang pukul 14.30, karena mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dulu. Khusus hari Jum’at, aku bisa pulang lebih awal, yaitu pukul 11.00.
Paragraf narasi diatas berisi sebuah fakta. Apbila dicermati, paragraf tersebut berisi urutan peristiwa berikut : bangun pukul 04.30, mandi, shalat subuh, berpakaian, mengecek buku, makan pagi, berangkat sekolah, belajar di sekolah, pulang sekolah. Rangkaian  peristiwa tersebut dialami oleh tokoh aku. Aku mengalami “konflik” dengan dirinya sendiri, yaitu kebiasaannya setiap hari.
2. WACANA DESKRIPSI
Wacana deskripsi adalah wacana yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Wacana deskripsi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca atau merasakan hal yang dideskripsikan. Oleh sebab itu deskripsi yang baik adalah deskripsi yang dilengkapi dengan hal-hal yang dapat merangsang panca indra. Contoh : seperti keadaan banjir, suasana dipasar dan sebagainya.
Sebagaimana menulis wacana-wacana lain dalam menulis wacana deskripsi ada langkah-langkahnya, yaitu :
1.      Menentukan topik karangan deskripsi.
2.      Merumuskan tujuan mengarang desskripsi.
3.      Mencari, mengumpulkan ataupun memilih bahan.
4.      Membuat kerangka karangan.
5.      Mengembangkan karangan.
3. WACANA ARGUMENTASI
   Wacana argumentasi adalah wacana yang bertujuan mempengaruhi pembaca agar dapat menerima ide, pendapat, atau pernyataan yang dikemukakan penulisnya. Untuk memperkuat ide atau pendapatnya, penulis wacana argumentasi menyertakan data-data pendukung. Tujuannya, pembaca menjadi yakin atas kebenaran yang disampaikan penulis.
   Dalam wacana argumentasi, biasanya ditemukan beberapa ciri yang mudah dikenal. Cirri-ciri tersebut misalnya :
1.      Ada pernyataan, ide, atau pendapat yang dikemukakan penulisnya
2.      Ada alasan, data, atau fakta yang mendukung
3.      Pembenaran berdasarkan data dan fakta yang disampaikan.
Data dan fakta yang digunakan untuk menyusun wacana atau paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan. Pada akhir paragraf atau karangan perlu disajikan kesimpulan. Contoh kutipan :
Menyetop bola dengan dada dan kaki dapat ia lakukan secara sempurna. Tembakan kaki kanan dan kiri tepat arahnya dan keras. Sundulan kepalanya sering memperdayakan kiper lawan. Bola seolah-olah menurut kehendaknya. Larinya cepat bagaikan kijang. Lawan sukar mengambil bola dari kakinya. Operan bolanya tepat dan terarah. Amin benar-benar pemain bola jempolan. 
Tujuan yang ingin dicapai melalui pemaparan argumentasi ini, antara lain :
1.      Melontarkan pandangan / pendirian
2.      Mendorong atau mencegah
3.      Mengubah tingkah laku pembaca
4.      Menarik simpati
Contoh : laporan penelitian ilmiah, karya tulis dsb.
4. WACANA PERSUASI
Wacana persuasi merupakan wacana yang berisi imbauan atau ajakan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya. Oleh karena itu biasanya disertai penjelasan dan fakta-fakta sehingga meyakinkan dan dapat mempengaruhi pembaca.
Pendekatan yang dipakai dalam persuasi adalah pendekatan emotif yang berusaha membangkitkan dan merangsang emosi.
Contoh :
1.      Propaganda kelompok / golongan, kampanye
2.      Iklan dalam media massa
3.      Selebaran, dsb

Selasa, 19 Mei 2015

mata kuliah wacana materi implikatur dan praanggapan

Implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang terdapat di dalam percakapan yang timbul sebagai akibat terjadinya pelanggaran prinsip percakapan. Sejalan dengan batasan tentang implikasi pragmatic, implikatur percakapan itu adalah proposisi atau “pernyataan” implikatif, yaitu apa yang mungkin diartikan, disiratkan atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur di dalam suatu percakapan (Grice 1975:43, Gadzar 1979:38 dalam Rustono 1999:82). Implikatur percakapan terjadi karena adanya kenyataan bahwa sebuah ujaran nyang mempunyai implikasi berupa proposisi yang sebenarnya bukan bagian dari tuturan itu (Gunarwan 1994:52 dalam Rustono 1999:82).
Didalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud tertentu yang tidak dituturkan bersifat tidak mutlak (Rahardi 2003 :85)Pembahasan tentang implikatur mencakupi pengembangan teori hubungan antara ekspresi, makna, makna penutur, dan implikasi suatu tuturan. Di dalam teorinya itu, ia membedakan tiga jenis implikatur, yaitu implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional, dan praanggapan. Selanjutnya implikatur nonkonvensional dikenal dengan nama implikatur percakapan. Selain ketiga macam implikatur itu, ia pun membedakan dua macam implikatur percakapan, yaitu implikatur pecakapan khusus dan implikatur percakapan umum. (Grice 1975:43-45 dalam Rustono 1999:83)
(1)   Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperolah langsung dari makna kata, bukan dari prinsip percakapan. Tuturan berikut ini mengandung implikatur konvensional. Contoh:
a.       Lia orang Tegal, karena itu kalau bicara ceplas-ceplos.
b.      Poltak orang Batak, jadi raut mukanya terkesan galak.
      Implikasi tuturan (a) adalah bahwa bicara ceplas-ceplos Lia merupakan konsekuensi karena ia orang Tegal. Jika Lia bukan orang Tegal, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa bicara ceplas-ceplos Lia karena ia orang Tegal. Implikasi tuturan (b) adalah bahwa raut muka galak Poltak merupakan konsekuensi karena ia orang Batak. Jika Poltak bukan orang Batak, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa raut muka galak Poltak karena ia orang Batak.
(2)   Implikatur nonkonvensional atau implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang tersirat di dalam suatu percakapan.  Di dalam komunikasi, tuturan selalu menyajikan suatu fungsi pragmatik dan di dalam tuturan percakapan itulah terimplikasi suatu maksud atau tersirat fungsi pragmatik lain yang dinamakan implikatur percakapan. Berikut ini merupakan contoh tuturan di dalam suatu percakapan yang mengandung suatu implikasi percakapan.
A: ”HP mu baru ya? Mengapa tidak membeli N70 aja?”
B : ”Ah, harganya terlalu mahal.”
Implikatur percakapan tuturan itu adalah bahwa HP yang dibeli A murah sedangkan HP N70 harganya lebih mahal daripada HP yang dibeli A.
Dua dikotomi implikatur percakapan selanjutnya adalah implikatur percakapan umum dan implikasi percakapan khusus. (Grice 1975:45, Levinson 1983:131)
A.    Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Tuturan (1) hanya berimplikasi (2) jika berada di dalam konteks khusus seperti pada percakapan (3) berikut ini.
(1)   Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan datang.
(2)   (Ibu belum pulang dari pasar).
(1)   A: Mengapa Ibu belum pulang?
B: Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan datang.
B.     Implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus. Implikatur (1) sebagai akibat adanya tuturan (2) merupakan implikatur percakapan umum.
(1)   Saya menemukan uang.
(2)   (Uang itu bukan milik saya)

PRAANGGAPAN DAN PERIKUTAN
Sebuah tuturan dapat dikatakan mempresuposisikan atau mempraanggapkan tuturan lainnya, apabila ketidakbenaran tuturan yang di praanggapkan itu mengakibatkan kebenaran atau ketidakbenaran tuturan tidak dapat dikatakan sama sekali (Rahardi 2003: 83-84). Meskipun di dalam batasan tentang pragmatik yang dikemukakan Levinson (1983:9) hanya disebut dan lazim dibicarakan di dalam bidang semantik (Lyons 1978:592), - oleh karena keterkaitannya dengan ikhwal implikatur – istilah praanggapan (presupposition) dan perikutan (entailment) juga biasa dibahas di dalam kajian pragmatik. Konsep tentang perikutan berdekatan dengan konsep tentang praanggapan dan implikatur (Rustono 1999 : 105). Praanggapan atau presuposisi adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan (Stalnaker 1978:321).
Praanggapan berupa andaian penutur bahwa mitra tutur dapat mengenal pasti orang atau benda yang diperkatakan (Palmer, 1989:181; Stubbs, 1983:214, lyons, 1978:592, Austin, 1962:51 dalam Rustono 1999:105). Pendapat-pendapat diatas mengakui adanya kesamaan pemahaman antara penutur dan mitra tuturnya tentyang suatu hal yang manjadi pangkal tolak komunikasi penutur. Dan dengan itu, komunikasi antarpeserta tutur dapat berjalan tanpa hambatan. Sebuah tuturan dapat mempraanggapkan tuturan yang lain. Sebuah tuturan dikatakan mempraanggapkan tuturan yang lain jika ketidakberatan tuturan kedua atau yang dipraanggapan mengakibatkan tuturan yang pertama atau mempraanggapkan tidak dapat dikatakan benar atau salah (Palmer 1989:181, Austin 1962:50, lyons 1978:596). Misalnya tuturan berikut ini:
A.  Ade makan nasi goreng.
B.  Hanik membaca tabloid Teen.
C.  Istri kepala desa itu sangat cantik
Tuturan yang dipraanggapan oleh tuturan A, B, C masing-masing adalah tuturan D, E, dan F berikut ini:
:           E. (Ada nasi goreng)
            F. (Ada tabloid Teen)
            G. (Ada istri)
Pemahaman tentang praanggapan oleh mitra tutur karena adanya tuturan yang mempraanggapkan. Tuturan yang mempraanggapkan itu dinyatakan (asserted) oleh penutur. Tuturan yang dipraanggapkan (presupposed) itulah yang dinamakan praanggapan.
Menurt Kaswanti Purwo (1990:19) ikhwal praanggapan ini dapat pula digunakan untuk menggali perbedaan ciri semantik verba.  Verba jongkok dan duduk merupakan dua verba yang memiliki perbedaan ciri semantik. Perbedaan ciri semantik kedua verba itu terlihat dari dapat tidaknya tuturan (A) sebagai praanggapan dari tuturan (B) dan (C) berikut ini.
A.  Aku jongkok setelah berdiri lama.
B.  Aku duduk setelah berdiri lama
C.  ( sudah capek berdiri.)
Perikutan adalah “implikasi” logis dari sebuah tuturan (Gunarwan 1994:52 dalam Rustono 1999:108). Perikutan tidak lain merupakan bagian atau konsekuensi mutlak dari sebuah tuturan (Wijana 1996:39-40 dalam Rustono 1999:108). Tuturan (A) berikut ini mengandung “implikasi” logis (B).
A.    Ibu sedang memasak.
B.     (Ibu bergerak.)
Verba memasak merupakan implikasi logis dari memasak. Hal itu terjadi karena tidak ada aktivitas memasak tanpa bergerak.
Sebagai konsekuensi mutlak, perikutan merupakan sesuatu yang bersifat logis. Tuturan (a) yang memprerikutan tuturan (b) sejalan dengan karakteristik perikutan itu.
(a)    Sekarang Ani kelas tiga SMP
(b)   (Ani pernah SD)
Perikrutan (c) juga merupakan konsekuensi logis dari tuturan (d). Dan karena itu, tuturan (d) tidaklah merupakan tuturan yang berterima.
(c)    Hani kelas tiga SMP
(d)   (Hani sudah lulus SD.)
(e)    ”Walaupun Hani sudah kelas tiga SMP, ia belum pernah SD”.
Dari deskripsi itu, dapatlah dinyatakan bahwa keseluruhan isi tuturan dapat mengandung apa yang dimaksud, apa yang dikatakan, dan apa yang diimplikasi. Praanggapan, implikatur, dan perikutan merupakan tiga istilah dengan konsep yang saling berdekatan. Implikatur atau lengkapnya percakapan adalah proposisi yang tidak merupakan bagian dari sebuah tuturan di dalam suatu percakapan dan tidak pula merupakan konsekuensi yang harus ada dari sebuah tuturan percakapan. Praanggapan merupakan pengetahuan bersama antara mitra tutur dan penutur yang tidak dituturkan dan merupakan prasyarat yang memungkinkan suatu tuturan benar atau tidak benar. Perikutan atau entailment adalah “implikasi” logis dari sebuah tuturan atau konsekuensi mutlak dari sebuah tuturan.

mata kuliah wacana materi lokusi, ilokusi dan perlokusi

1.    Tindak Lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur yang berhubungan dengan mengatakan sesuatu. Contohnya, yaitu:
a.Manusia adalah salah satu mahluk ciptaan Tuhan.
b.Jari tangan manusia jumlahnya sepuluh.
c.Ikan paus adalah hewan yang menyusui.
d.Indonesia memiliki beragam budaya.
e.Kendari adalah ibu kota Sulawesi Tenggara.
2.    Tindak Ilokusi
Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berkaitan dengan perbuatan dalam hubungannya dengan mengatakan sesuatu. Contohnya, yaitu:
a.Sudah satu minggu lantai ruangan ini tidak disapu. (menyuruh untuk menyapu)
b.Ada binatang buas. (mengingatkan untuk berhati-hati)
c.Kukumu sudah panjang. (menyuruh untuk dipotong)
d.Bagus sekali kalau kamar ini dibersihkan. (menyuruh untuk membersihkan)
e.Ada anjing gila. (menyuruh untuk berhati-hati)
3.    Tindak Perlokusi
Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang menimbulkan efek atau akibat karena adanya suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. Contohnya, yaitu:
a.    Dialog 1
A: Kegiatan lomba baca puisi akan dilaksanakan besok. Kamu   sudah mengetahuinyakan?
B: Iya, saya sudah diberitahu tadi.
A: Kamu bisa tidak, besok datang lebih pagi?
B: Rumah saya jauh. (ilokusi)
A: O, baiklah. Kamu datang sesuai jadwal biasanya saja. (perlokusi)
    Keterangan:
    “,Baiklah. Kamu datang sesuai jadwal biasanya saja.” Kalimat tersebut merupakan kalimat perlokusi atau efek dari ilokusi  “Rumah saya jauh.” Tokoh A memaklumi alasan tokoh B ysng tidak dapat hadir atau datang lebih pagi sebab rumahnya jauh.  Oleh karena itu, tokoh A memakluminya dengan menyuruh tokoh B untuk datang sesuai jadwal biasanya saja.
b.    Dialog 2
A: Kemarin adalah lang tahun saya. Kamu tidak lupa kan?
B: Iya, saya ingat kok.
A: Tetapi, mengapa kamu tidak datang ke rumahku kemarin?
B: Kemarin saya sangat sibuk. (ilokusi)
A: Tak apalah, saya mengerti. Setidaknya kau telah menginganya.(perlokusi)
    Keterangan:
    “Tak apalah, saya mengerti. Setidaknya kamu mengingatnya.” Kalimat ini merupakan kalimat perlokusi dari kalimat ilokusi “Kemarin saya sangat sibuk.” Tokoh A memaklumi alasan tokoh B yang tidak datang ke rumah tokoh A yang disebabkan tokoh B sangat sibuk kemarin. Kalimat tersebutlah yang merupakan contoh perlokusi yaitu tindakan yang secara langsung dipahami oleh salah satu pembicara.
c.    Pencopet! Pencopet!
Keterangan:
Akibat adanya teriakan pencopet, orang-orang berlari mengejar seseorang yang dituduh pencopet. (perlokusi)
d.    “Kamarmu kotor sekali ya?” kata seorang ibu pada anaknya.
Keterangan:
Anak yang menjadi lawan bicara langsung mengambil sapu dan membersihkan kamarnya. Tindakan yang dilakukan anak ini merupakan perlokusi.
e.    Dialog 3
A: Bisakah kamu menemaniku ke pasar?
B: Saya sangat sibuk.(ilokusi)
A: Baiklah, biar saya ke pasar sendiri. (perlokusi)
    Keterangan:
    Tokoh A memaklumi alasan tokoh B yang tidak dapat menemaninya ke pasar.


1.Tuturan Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi  Cerpen Kejora
Tindak bertutur lokusioner atau dalam istilah bahasa Inggrisnya dinamakan locutioner speech act, merupakan tuturan yang makna kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu yang terdapat didalam kamus dan makna sintaksis kalimat itu mengacu persis dengan kaidah sintaksisnya. Seperti contoh yang terdapat didalam penggalan wacana cerpen “Kejora”:KONTEKS: TERDORONG OLEH RASA PENASARANNYA, VINKA MENGAJAK LUNA TEMANNYA UNTUK MENGHAMPIRI KEJORA DIRUMAHNYA“Kejora? Apa kabar? Masih ingat Kakak?” sapa Vinka. Kejora hanya eliriknya.kemudian tersungging sedikit senyum di wajah lugunya. Ia tampak manis.
“Udah siang nih! Vin, lu masih mau foto-foto bareng penduduk ya?” Keluh dara yang sudah mengeluarkan keringat.Tuturan dara diatas merupakan tuturan lokusioner karena tuturan: “Udah siang nih! Vin” memang mengacu pada suasana yang mengacu kepada makna udara yang hangat sekali dimana matahari sudah berada tepat di tengah-tengah kepala. Hal ini didukung oleh Dara yan ternyata sudah mengeluarkan keringat. Tuturan ini bukan dimaksudkan untuk meminta kipas angin dijalankan atau jendela dibuka. Dengan kondisi tanpa mengkaitkan maksud tertentu, tuturan Udah siang nih! Vin” merupakan tuturan lokusioner. Tindak bertutur illokusioner (illocutioner speech act) bertumpu pada jenis tuturan yang mempunyai maksud, fungsi atau daya tuturan tertentu seperti yang tertera pada hal yang mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterimakasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dsb.
KONTEKS: KEJORA LANGSUNG LARI MASUK KEDALAM. VINKA KEBINGUNGAN. APA ADA YANG SALAH DENGAN PERTANYAANNYA YANG BERMAKSUD UNTUK BERTEMU DENGAN IBUNYA. TAKLAMA KEJORA KELUAR DENGAN MENGGANDENG IBUNYA.
“Aduh….Jora? Emak teh jangan ditarik-tarik? Kunaon atuh? Eh, aya eneng-eneng geulis?”
“Maaf, Bu. Kami mengganggu. Saya ingin ngobrol-ngobrol tentang Kejora,” Vinka memulai pembicaraan.
Tuturan Ibu didalam penggalan wacana cerpen itu termasuk kedalam tuturan ilokusioner. Alasannya bahwa tuturan Ibu itu tidak merupakan hasil bertutur saja tetapi dalam tuturan itu tersirat suatu maksud. Karena, pada mulanya sang Ibu tidak mengetahui akan kedatangan Vinka dan teman-temanya, maksud yang dikandung dari tuturannya itu adalah bertanya ada apa gerangan hingga Kejora menarik-narik dirinya. Denagn demikian, tuturan Ibu, “Aduh….Jora? Emak teh jangan ditarik-tarik? Kunaon atuh? Eh, aya eneng-eneng geulis?” mengandung maksud tertentu sekaligus menandai tindakan ilokusioner.Sedangkan tindak bertutur jenis ketiga yaitu perlokusioner sering membawa pangaruh atau pengaruh yang dihasilkan dengan menuturkan sesuatu yang membuat mitra tuturnya menjadi takut, lega, kawatir, sedih, gembira, dsb. Didalam penggalan wacana cerpen “Kejora” berikut ini terkandung tuturan perlosioner.
KONTEKS: VINKA MENGHEMBUSKAN NAFASNYA. IA MENATAP GADIS KECIL YANG SEDARI TADI MASIH MENENGADAHKAN KEPALANYA KEATAS. KEMUDIA VINKA JUGA MELIHAT KEATAS KARENA INGIN TAHU APA YANG GADIS KECIL ITU LIHAT. TAK LAMA VINKAN TERSENYUM MENGERTI.
“Adik suka bintang, ya?” Tanya Vinka. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. “Kakak juga suka. Oh ya nama kakak Vinka. Adik siapa?Gadis itu tersenyum manis. Dengan semangat, ia menunjuk kearah bintang-bintang dilangit.Ekspresi Vinka dalam penggalan wacana cerpen “Kejora” tersebut merupakan tuturan perlokusioner. Alasannya adalah bahwa tuturan itu digunakan untuk mengetahui apakah Kejora menyukai bintang? Dan ternyata membawa dampak psikologis pada Kejora, mitra tuturnya, yang merasa bahagia akhirnya Vinka mengerti apa yang sedang ia lakukan. Hal ini dibuktikan dengan adanya senyuman Kejora yang diiringi dengan anggukkannya. Senyuman Kejora merupakan efek yang menandai keperlokusioneran tuturan Vinka.
2.Tuturan , Direktif, Expresif, Komisif Representatif atau biasa disebut dengan istilah asertif berupa tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran tuturannya. Hal ini terdapat pada ujaran yang menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan, kesaksian, berspekulasi, dsb.KONTEKS: SETELAH AKHIRNYA VINKA PAHAM MAKSUD APA YANG SEBENARNYA DILIHAT KEJORA DENGAN TANPA BERHENTI MEMADANG LANGIT DI MALAM HARI. DENGAN SEMANGAT KEJORA MENUNJUK KEARAH BINTANG-BINTANG DI LANGIT.
“Bintang? Nama adik, Bintang?” lanjut Vinka lagi. Tetapi gadis itu menggeleng sambil terus menunjuk kearah bintang. “Aduh…maaf, Dik. Kakak nggak ngerti.” Vinka bingung. Gadis itu terus menunjuk-nunjuk ke atas.“Kejora! Ayo pulang!” seorang laki-laki berusia belasan tiba-tiba menghampiri gadis kecil itu. Mungkin kakaknya.
“Maaf, Kak. Kejora bisu.” Sapa si Kakak sambil menarik tangan Kejora tetapi Kejora melawan.
Tuturan Kakak pada penggagalan cerpen “Kejora” , “Maaf, Kak. Kejora bisu.” merupakan tuturan representatif. Hal itu terjadi karena tuturan itu mengikat Kakak sebagai pelaku penuturnya akan kebenaran tuturannya itu. Dari konteks tuturan diketahui, bahwa memang adik Kakak itu memang tidak bisa berbicara. Dengan keadaan seperti itu, tuturan Kakak itu ada benarnya. Walaupun Vinka mencoba untuk selalu menebak apa yang sedang Kejora lihat dengan seribu pertanyaanpun, dia tetap akan diam tak bergeming tidak memberi satupun jawaban. Atas dasar itu, maka tuturan Kakak tersebut merupakan tuturan representatif atau tuturan asertif.
2.1 Tindak tutur direktif atau impositif bertumpu pada tuturan yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan didalam tuturan tersebut, contohnya seperti tertera pada hal yang: memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, menantang, dsb. Penggalan wacana cerpen “Kejora” dibawah ini tergolong kedalam jenis tuturan impositif atau direktif.
KONTEKS: DARA MELEDEK VINKA DENGAN MENEPUK BAHU VINKA KETIKA DIA SEDANG MAKAN. IA TERBATUK-BATUK KARENA TERSENDAK ROTI YANG DARI TADI DIKUNYAHNYA. LALU IA BERLARIAN KESANA KEMARI. MEMBUKA ISI KULKAS MENCARI AIR MINERAL, KEMUDIAN MENENGGUKNYA
“Makanya! Jangan makan sambil bengong!” ledek Dara. Vinka manyun. Witri, Maya dan Luna hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.
“Udah, udah! Abis makan pada mandi ya! Ntar kita jalan-jalan ke kampong sini. Sekalian olah raga,” usul Luna.
“Iya! May, kameranya jangan lupa nanti dibawa. Siapa tahu aja ada momen cantik,” tambah Witri.
Hal itu terjadi karena memang tuturan ti dimaksudkan penuturnya, Luna, agar mitra tuturnya, Dara, Vinka, Witri dan Maya yang ada pada konteks tuturan diatas agar mereka mandi setelah menyelesaikan makanan mereka. Indikator bahwa tuturan itu direktif adanya suatu tindakan oleh mereka setelah mendengar tuturan itu. Minimalnya dengan mengucakan kata ya pada tituran selanjutnya. Tuturan, “Udah, udah! Abis makan pada mandi ya!” menandai kedirektifan tuturan Luna.
2.2 Tuturan expresif atau evaluatif merupakan tuturan yang diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan tersebut. Memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat dan menyanjung adalah contoh-contoh dari jenis tuturan evaluatif. Berikut merupakn penggalan cerpen “Kejora” yang mengandung tuturan expresif.
KONTEKS: WITRI, MAYA DAN LUNA HANYA BISA TERTAWA MELIHAT TINGKAH DARA DAN VINKA. KEMUDIAN LUNA MENGUSULKAN UNTUK JALAN-JALAN KE KAMPUNG YANG MEREKA TEMPATI SETELAH SEMUA SAHABATNYA ITU MANDI
“Iya! May, kameranya jangan lupa nanti dibawa. Siapa tahu aja ada momen cantik,” tambah Witri.
“Apalagi momen cantiknya itu foto-foto sama orang yang cantik kayak aku, he..he..” ujar Vinka pede, disusul dengan teriakan ’huu…’ kompak keempat temannya.
Tuturan Vinka pada penggalan wacana itu, “Apalagi momen cantiknya itu foto-foto sama orang yang cantik kayak aku, he..he..” termasuk kedalam tuturan ekspresif yang menyanjung dirinya sendiri. Termasuk tindak tutur expresif tuturan itu karena tuturan itu dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkannya, yaitu menambahkan cantiknya momen yang akan diambil gambarnya dengan adanya dirinya yang cantik. Isi tuturan itu berupa sanjungan karena itu tindakan yang memproduksinya termasuk tindakan ekspresi menyanjung meskipun ditujukkan pada diri sendiri.
2.3 Tuturan komisif adalah tuturan yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan dalam tuturannya. Area ini mencakup tindakan yang: berjanji atau bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul, dsb. Tuturan Ibu dalam penggalan wacana cerpen “Kejora” adalah tuturan komisif.
KONTEKS: VINKA JADI TAKUT SETELAH MENDENGAR UCAPAN IBU APAKAH KEJORA BIKIN MASALAH SAMA DIA DAN TEMAN-TEMAN DENGAN VOLUME SUARA YANG MAKIN MENGERAS
“Nggak, Bu. Saya Cuma mau tahu, apa Kejora…”
“Sudah! Saya teh tidak suka ada yang mendekati kejora! Apalagi eneng-eneng seperti kalian!Saya nggak mau kalian merusak anak saya!” bentak Ibunya memotong kalimat Vinka
3.Analisis Maksim Kualitas Cerpen Kejora
I. Jenis-Jenis Tindak Tutur
Suatu tindak tutur biasa terjadi dalam sebuah ujaran yang diucapkan oleh penutur dengan mitra tuturnya. Adanya maksud yang tersirat didalamnya tergantung pada siapa yang mengucapkannya, bagaimana isi pengucapannnya, ditempat mana dan lain sebagainya. Cara pendekatan seperti itu tidak terlepas dari konteks yang menyertainya. Dengan mengacu pada pendapat Leech, Rustono (1999:34) mengklasifikasikan aspek situasi tutur untuk tindak tutur yang meliputi: penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Berbicara mengenai konteks tentunya tidak bisa dilepaskan dari cabang bahasa yang lebih mengidentifikasi untuk apa tuturan itu digunakan bukan apa makna yang tertera dalam tuturan itu, yaitu pragmatik.
Ciri kajian pragmatik pastilah melandaskan pada analisis suatu tindak tutur yang terbagi kedalam empat kategori yang bisa dirinci lagi kedalam beberapa bagian. Pertama, Austin (Rustono 1999:34) mengklasifikasikan tuturan deklaratif menjadi dua, yaitu Konstantif dan Performatif. Selanjutnya, ia juga menggolongkan tiga tindak tutur yang berupa: Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi (Rustono 1999:36). Beberapa tahun kemudian, Searle mencetuskan lima jenis tindak tutur, masing-masing adalah: Representatif, Direktif, Expresif, Komisif, dan Isbati. Isbati sengaja dipilih untuk menghilangkan kerancuan istilah tentang jenis kalimat yang deklaratif. Kemudian juga ada pengkelompokkan tindak tutur menjadi tuturan Langsung, Tidak Langsung, Harfiah, dan Tidak Harfiah. Sejurus kemudian , Freser berpendapat bahwa ada dua jenis tindak tutur lagi berdasarkan pendekatan kelayakan pelakunya yaitu Vernakuler dan Seremonial (Rustono 1999:46-47).
II. Analisis Tindak Tutur Cerpen “Kejora “
Tuturan-tuturan yang akan dianalisis lebih lanjut adalah cerita pendek yang bisa disebut dengan cerpen. Cerpen ini mengambil judul “Kejora” yang diterbitkan pada majalah remaja muslim Annida No. 8 / XVI / 15 April-15 Mei 2007. Kejora lebih bercerita tentang pengalaman salah satu orang dan keempat sahabatnya yang sedang berlibur, yang mengalami kejadian berantai yang diakibatkan oleh salah satu kisah tragis dari anak penduduk desa yang mereka tempati.
Tuturan –tuturan tersebut akan dilihat dari sudut pandang jenis-jenisnya seperti konstantif dan performatif, tuturan llokusi, ilokusi dan perlokusi, tuturan representatif, direktif, expresif, komisif, dan isbati dan jenis tindak bertutur langsung, tidak langsung, dan takharfiah. Berikut merupakan penjabaran dari masing-masing lima jenis tindak tutur beserta analisisnya:
A. Tuturan Konstantif dan Performatif
Tuturan Konstatif merupakan tuturan yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji dengan benar atau salah. Tuturan ini terdapat pada kalimat yang bermodus deklaratif dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia sebagai bahan acuan untuk dapat menguji kebenarannya.
Tuturan berikut ini adalah tuturan konstatif didalam cerita pendek “kejora”.
KONTEKS: KETIKA VINKA MULAI MEMBICARAKAN TENTANG KEJORA DENGAN IBUNYA, IBUNYA LANGSUNG DIAM DENGAN TAMPANG CURIGA, MENATAP VINKA DARI ATAS HINGGA BAWAH. VINKA JADI SERBA SALAH. LALU MENATAPI MAYA, DARA, WITRI DAN LUNA SAHABAT PERKULIAHANYA BERGANTIAN.
“Kalian teh wartawan, ya?” Tanya ibu Kejora, tampak tidak suka.
“Bukan, bu. Kami bukan wartawan. Kami hanya mahasiswa yang sedang berlibur kesini. Kebetulan saya semalam bertemu dengan Kejora didepan bungalow yang kami tempati”, jelas Vinka.
Kekonstatifan tuturan tokoh Vinka, mitra tutur Ibu, didalam penggalan wacana cerpen “Kejora” itu dapat dibuktikan dengan cara menguji benar salahnya isi tuturan tersebut. Pengujian itu dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan: “Benarkah tokoh Vinka dan teman-temanya itu mahasiswa? Benarkah tokoh Vinka dan teman-temanya itu bukan wartawan?” Jawaban pertanyan itu dapat ditemukkan pada peristiwa tutur yang mendukung tuturan itu. Dari konteks tutur wacana cerpen itu bahwa tokoh Vinka selaku penutur tuturan itu adalah bersahabat dengan Maya, Dara, Witri, dan Luna yang notabene merupakan teman perkuliahan Vinka yang datang bersamaan dengan Vinka untuk menemui Ibu Kejora dirumahnya. Diperkuat lagi dengan tuturan yang dikatakan oleh Vinka sendiri yang menyebutkan: “Kami hanya mahasiswa yang sedang berlibur kesini”. Dengan demikian, tuturan, “Bukan, bu. Kami bukan wartawan. Kami hanya mahasiswa yang sedang berlibur kesini. Kebetulan saya semalam bertemu dengan Kejora didepan bungalow yang kami tempati” dapat dibuktikan kebenarannya. Karena itu, tuturan itu merupakan tuturan konstantif.
Dilain sisi, kalimat yang berjenis deklaratif bisa berbentuk perfomatif dimana pengutaran tuturannya digunakan untuk melakukan sesuatu dengan membuat tuturan itu sendiri. Seperti yang terdapat pada tuturan dari penggalan wacana cerpen “Kejora”:
KONTEKS: SAMBIL MENGATAKAN BAHWA KEJORA BISU, KAKAKNYA MENARIK TANGAN KEJORA. TETAPI KEJORA MELAWAN.
“Dik, biar aja Kejora main sebentar. Tampaknya ia belum mau pulang”, Vinka mencoba membujuk Kakaknya.
“Kakak nggak usah sok tahu! Saya ini kakaknya! Saya yang tahu Kejora seperti apa! Dia bisa membahayakan orang! Apalagi permpuan seperti kakak!” jelas sang Kakak.
“Ayo, Jora! Pulang! Kamu mau dimarahi Umi?” Kakaknya kembali menarik tangan Kejora yang kesakitan. Tuturan sang Kakak dalam penggalan wacana cerpen tersebut merupakan tuturan performatif. Alasannya adalah bahwa tuturan itu digunakan untuk melakukan sesuatu, yaitu mengancam. Tindak tutur melakukan kegiatan mengancam itu menanadai keperfomatifan tuturan. Pengujian terhadap tuturan perfomatif bukanlah didasarkan pada benar atau salah seperti pada tuturan konstantif melainkan dengan pengujian atas sahih tidaknya tuturan itu. Dari kebiasaan berkomunikasi dengan bahasa yang wajar, ternyata dapat dikatakan bahwa tuturan itu sahih. Maksudnya, ancaman sang Kakak terhadap adiknya Kejora itu wajar dilakukan sang Kakak untuk menghindarkan kemungkinan yang lebih buruk yang bisa menimpa Vinka. Jadi, tuturan Kakak, “Ayo, Jora! Pulang! Kamu mau dimarahi Umi?” merupakan tindakan bertutur yabg sahih. Oeh kesahihannya itulah, tuturan Kakak tergolong tuturan perfomatif.

mata kuliah wacana materi kohesi dan koherensi

1.      Definisi kohesi dan koherensi
A.    Pengertian kohesi menurut beberapa tokoh:
a.       Tarigan (1987 : 96 )
Kohesi atau kepaduan wacana menurut aspek formal bahasa dalam wacana.
b.      Menurut Gutwinsky dalam Tarigan (1987 : 97 )
Kohesi atau kepaduan wacana ialah hubungan antar kalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu.
c.       Menurut Halliday dan Hasan dalam Tarigan (1987 : 97 )
Dalam kohesi menggunakan penanda yang dipakai untuk menandai kohesif.
Kohesi secara umum dapat kita artikan sebagai keserasian hubungan antar unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat.
B.     Pengertian koherensi
Koherensi adalah pengaturan secara rap kenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya menurut ( Wohl, 1978 : 25).
2.      Jenis-jenis kohesi dan koherensi
a.       Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah kepaduan bentuk bagian-bagian wacana yang      diwujudkan ke dalam sistem gramatikal.
Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi:
1.      Pengacuan ( Refrensi )
Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatik yang merupakan satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis yakni (1)  pengacuan endofora, apabila acuannya berada atau terdapat dalam teks wacana itu, (2) pengacuan eksofora, apabila acuannya berada atau terdapa di luar teks.
2.      Subtitusi.
Subtitusi adalah hasil penggantian unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh  unsure-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. Subtitusi merupakan hubungan  gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Subtitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, atau campuran.
3.      Elipsis
Elipsis adalah peniaadaan kata atau satuan lain yang ujud asalanya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau luar bahasa. Ellipsis dapat pula dikatakan penggantian nol ; sesuatu yang ada tetapi tidak diucapakan atau tidak dituliskan.
4.      Konjungsi
Konjungsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalusa dengan klausa, kalimat denagn kalimat, atau peragraf dengan paragraph.
Konjungsi dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas :
- konjungsi adversative : tetapi, namun
- konjungsi kausal : sebab, karena
- konjungsi korelatif : entah/entah, baik/maupun
- konjunsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa
- konjungsi temporal : sebelum, sesudah
b.      Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal adalah hubungan antar  unsur dalam wacana secara                        semantik. Hubungan  kohesif yang diciptakan atas dasar aspek leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau relasi semantik antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana.
 Aspek leksikal dalam wacana dibedakan menjadi enam yakni :
1.      Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual yang dianggap 
penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang  sesuai.
2.      Sinonim
Sinonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama atau ungkapan yang makna nya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Sinonim merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana.
3.      Antonim
Antonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain, satuan lingual yang maknanya berlawan/berposisi dengan satuan lingual yang lain.
4.      Kolokasi
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi dalam menggunakan pilihan  kata yang cenderung digunakan secara berdampingan.
5.      Hiponim
Hiponim dapat diartikan sebagai satuan bahasa yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain.
6.      Ekuivalen ( kesepadanan)
Ekuivalen adalah hubungan  kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjuk adanya hubungan kesepadanan.
3.      Definisi paragraf
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. 
4.      Ciri-ciri dan klasifikasi paragraf
Menurut Tarigan dalam buku Mudlofar (2002: 95) menyatakan beberapa ciri paragraf, yaitu:
a.          Berdasarkan sifat dan tujuannya paragraf dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1)      Paragraf pembuka
Paragraf pembuka merupakan paragraf yang berperan sebagai pengatur untuk sampai kepada masalah yang akan diuraikan
2)      Paragraf penghubung
Paragraf penghubung ialah semua paragraf yang terdapat antara paragraf pembuka dan penutup yang berisi uraian masalah yang dibahas.
3)      Paragraf penutup
Paragraf penutup ialah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan.
b.          Berdasarkan kalimat utamanya, paragraf terbagi menjadi:
1)      Paragraf deduksi
Paragraf deduksi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak diawal.
2)      Paragraf Induksi 
Paragraf induksi adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf.
3)      Paragraf kombinasi (campuran)
Paragraf kombinasi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan diakhir paragraf.
c.          Berdasarkan isi, paragraf terbagi menjadi:
1)      Paragraf narasi
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Contoh narasi yang berupa fiksi: novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
2)      Paragraf deskripsi
Paragraf deskripsi ialah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
3)      Paragraf eksposisi
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.
4)      Paragraf argumentasi
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
5)      Paragraf persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
5.      Pengembangan Paragraf
a)      Pengembangan alamiah
Pengembangan secara alamiah ini seorang penulis dapat menggunakan pola yang sudah ada pada obyek atau kajian yang dibicarakan. Penulis dapat menggunakan dua pola. Pertama, pola spesial atau urutan ruang, misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar kedalam dan sebagainya. Kedua, pola kronologis atau urutan waktu, misalnya gambaran urutan terjadinya peristiwa, perbuatan atau tindakan, tadi sekarang, nanti, besok, dan sebagainya.
b)      Pengembangan klimaks dan antiklimaks
Pembuatan klimaks dilakukan dengan penampilan gagasan utama yang rinci dari persoalan yang paling rendah kedudukannya. Sementara itu pengembangan antiklimaks merupakan kebalikan dari klimaks.
c)      Pengembangan Perbandingan dan Pertentangan
Paragraf perbandingan dan pertenntangan ialah cara pengarang menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua orang , subjek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu (Keraf dalam buku Mudlofar 2002: 99).
d)     Pengembangan analogi
Pengembangan analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah terkenal umum dengan yang tidak dikenal umum.
e)      Pengembangan contoh-contoh
Gagasan yang terlalu umum sifatnya sulit dipahami. Agar pembaca menjadi jelas diperlukan ilustrasi-ilustrasi konkret. Ilustrasi konkret inilah yang nantinya dikembangkan menjadi contoh-contoh.
f)       Pengembangan akibat sebab -sebab akibat
Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berupa hubungan sebab akibat dan akibat sebab. Sebab dapat bertindak sebagai kalimat utama, sedangkan akibat merupakan kalimat penjelas. Dapat pula sebaliknya , akibat sebagai pikiran utama dan sebab sebagai pikiran penjelas.
g)      Pengembangan definisi luas
Yang dimaksud pengembangan definisi luas ialah pengarang bermaksud memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal (Keraf dalam buku Mudlofar 2002: 102).
h)      Pengembangan klasifikasi
pengembangan karangan kadang-kadang memerlukan pengelompokan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini bekerja kedua arah yang berlawanan, yaitu pertama mempersatukan satuan-satuan kedalam satu kelompok., dan kedua, memisahkan satuan-satuan tadi dari kelompok yang lain (keraf dalam buku Mudlofar 2002: 103).
i)        Pengembangan umum khusus-khusus umum
Cara pengembangan paragraf umum khusus-khusus umum merupakan cara yang paling umum dipakai. Paragraf umum khusus dikembangkan dengan meletakkan pikiran utama pada awal paragraf kemudian rician-rincian berada pada kalimat-kalimat berikutnya. Sebaliknya paragraf khusus umum, mula-mula dikembangkan rincian-rincian kemudian pada akhir paragraf disampaikan generalisasinya. Jadi paragraf umum khusus bersifat deduktif, sedangkan paragraf induktif bersifat khusus umum.
6.      Hubungan kohesi dan koherensi dalam pengembangan paragraf hingga membentuk sebuah wacana utuh.
Pengembangan paragraf untuk membentuk sebuah wacana utuh yang baik maka sangat diperlukan untuk memperhatikan adanya kohesi dan koherensi antar kalimat yang ada di dalam paragraf dan juga paragraf-paragraf di dalam sebuah bacaan secara keseluruhan.